cherin berlari menyusuri koridor sekolahnya dan terus mengucapkan kata maaf pada setiap orang yang ia lewati. Gadis berparas imut itu berbelok di pintu yang bertuliskan 'toilet putri'. Lima menit kemudian cherin
keluar dari tempat yang menentramkan itu dengan wajah penuh kelegaan. Saat dengan santai berjalan dikoridor sambil senyum-senyum tak jelas, tanpa dia sadari ia sudah tersungkur di lantai karena terpeleset kulit pisang. Cherin segera berdiri dan mencari siapa tersangka dari kasus ini. "Oh,ya itu dia!" pikir cherin saat melihat seorang pria berambut pirang duduk membelakanginya sambil makan pisang. Langsung saja cherin menghampirinya.
"hei!" cherin menepuk bahu cowok itu.
"ya?" cowok yang baru saja cherin sadari jika ternyata wajahnya seperti monyet itu membalikkan badannya.
"kamu yang buang ini sembarangan kan?!" cherin menunjukkan kulit pisang yang tadi telah berhasil menjatuhkan martabatnya.
"mmm...mungkin." kata cowok itu tanpa rasa bersalah.
Cherin merasa tambah marah melihat tampang cowok ini. Apalagi rambut pirangnya yang acak-acakan memperkuat kesan kemonyetannya.
"emangnya kenapa ya?" tanya si monyet. Lagi-lagi dengan tampang innocentnya yang entah mengapa membuat cherin ingin memukul wajahnya dan memasukkannya ke comberan.
"gara-gara ini aku jadi jatuh!" protes cherin.
"itu berarati kamu yang nggak hati-hati."
kini mata cherin telah melotot maksimal. "cuma orang sembarangan yang buang sampah sembarangan!" akhirnya kata-kata yang terdengar bijak itu yang keluar dari mulut cherin.
"ooh..." si monyet hanya membulatkan mulutnya dan mengeluarkan suaranya yang tak begitu nyaring.
Kini otot-otot mata milik cherin hampir putus, sepertinya matanya mau keluar dari sarangnya.
"aaahh...orang ini, kenapa nggak mati aja sih!" pekik cherin dalam hati.
Si monyet itu berdiri dan hendak meninggalkan cherin. Tapi cherin dengan cekatan menahan tangan monyet itu. Si monyet itu mengerutkan keningnya.
"kamu mau lari dari tanggung jawab ya!" bentak cherin.
"apa yang harus kutanggung?"
"martabatku!"
"gimana caranya?" tanya si monyet dengan segala tampang polosnya.
"minta maaf kek! Gak pernah diajarin sopan santun apa!?"
"minta maaf sama siapa?"
"sama akulah!"
"emangnya aku salah apa sama kamu?"
kemarahan cherin telah sampai di ubun-ubun. "ni orang goblog banget sih! Punya otak apa enggak!!" rutuk cherin dalam hati.
Saat si monyet mulai beranjak pergi, cherin terus mengikutinya sambil menggerutu. Dia telah bertekat untuk membuat cowok itu bersimpuh dihadapannya.
"kamu kelas ini juga?" tanya si monyet berhenti di depan pintu sebuah kelas. Disana tertulis 3A. Ya, seperti yang cherin ketahui kelas itu adalah kelas istimewa. Karena setiap anak yang masuk kelas itu pasti berasal dari keluarga kaya raya.
"hei." lambaian tangan si monyet menyadarkan cherin dari lamunannya.
"ah,bukan. Aku kelas 3C." jawab cherin dalam keadaan setengah sadar. Saat cherin tersadar dari lamunannya, dia hanya berdiri sendiri disana. Tak ada satupun orang di luar kelas. Sepertinya bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.
***
lengkaplah sudah penderitaan cherin hari ini.
Gara-gara mengejar monyet, cherin terlambat masuk kelas. Ditambah lagi dia lupa mengerjakan PR dari si guru killer kumisan, jadi hukumannya makin bertumpuk.
Hari ini terasa begitu panjang. Begitu terasa panjang karena cherin harus membersihkan seluruh halaman sekolah dari sampah.
"dasar monyet sialan!" rutuk cherin yang terus menyapu halaman belakang sekolah. "kenapa di sekolah kek gini ada monyet sih!?"
cherin berhenti sejenak ketika teringat kalau si cowok monyet yang tidak dia ketahui namanya itu adalah anak kelas 3A. Kelas orang kaya. "pantas aja ada monyet, kaya sih monyetnya."
tiba-tiba saja ada kulit pisang yang mendarat dengan sangat tidak indah di kepala cherin. Dengan reflek yang cekatan cherin membalikkan badannya dan mendapati sesosok manusia yang tampak seperti monyet. Bahkan seperinya dia lebih pantas menjadi monyet dari pada monyet aslinya.
"kamu benar-benar cinta kebersihan ya?" celoteh si monyet.
Cherin tak bisa berkata-kata saking banyaknya omelan yang ingin ia hujamkan kepada si monyet.
"kamu yang bersihin semua sampah di sekolah ini ya?" lanjut si monyet sambil berjalan mendekati cherin. Dia menyodorkan sebuah pisang kepada cherin. "nih. makan dulu." kemudian dia duduk di rumput dan menepuk-nepukkan tangannya tepat di sebelah ia duduk, menyuruh cherin duduk disampingnya.
Dia mengerutkan keningnya ketika cherin tetap berdiri dan memandanginya. "kamu nggak capek?"
cherin duduk disamping cowok itu. Masih dengan tatapan menyelidik, cherin mengupas kulit pisang yang ia pegang.
"nama kamu siapa?" tanya monyet.
"cherin." balas cherin singkat dan melahap habis pisangnya.
"uya." kata si monyet. "namaku uya."
"ooh...jadi ni monyet namanya uya." pikir cherin. "kenapa gak lutung aja sekalian."
"kamu cherin dari kelas 3C yang hidup untuk membayar utang pada rentenir." ujar uya santai.
"kamu!" bentak cherin kesal. "bisa sopan dikit nggak sih!?"
"lho itu kan kenyataan."
"tapi kan jangan langsung menusuk-nusuk gitu dong!" gerutu cherin sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
"ahaha..." uya tertawa renyah. "mukamu lucu..."
sekarang wajah cherin sudah sangat merah padam.
Setelah puas tertawa uya beranjak dari duduknya. "pulang sekarang yuk." ajaknya ramah.
"ya sana pulang, ngapain ngajakin aku?"
"nggak baik sore-sore gini cewek pulang sendiri."
"peduli apa kamu." cherin memalingkan wajahnya.
"ya ampun, kamu tu kayak jadi pacarku aja, pake ngerajuk segala." kontan mata cherin langsung melotot mendengar ucapan uya.
"siapa yang ngerajuk!" sanggah cherin kesal.
"yaudah, makanya ayo pulang nenek." uya mengulurkan tangannya.
"siapa yang nenek-nenek!" kata cherin sambil meraih tangan uya dan berdiri. "dasar monyet!" tambahnya dan berjalan mendahului uya.
-Keesokan paginya di sekolah. Cherin berjalan dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak seperti biasanya, itu disebabkan oleh sesosok manusia yang sejak ia keluar dari pintu rumah hingga detik ini terus berada disamping cherin. Dia adalah uya. Entah mengapa cherin merasa begitu berdebar saat melihat uya. Itu terjadi setelah semalam ia bermimpi melihat uya menjadi seorang pangeran tampan seperti dalam tokoh-tokoh dongeng. Dan tiba-tiba saja tadi pagi ketika cherin keluar dari rumahnya, uya sudah menunggunya di depan pagar rumahnya. Uya menoleh kepada cherin dan melayangkan sebuah senyuman yang membuat uya terlihat sangat tampan.
"non, kelasmu kan belok kanan." kata uya ketika cherin berjalan terus melewati kelasnya.
"oh iya." kata cherin agak linglung. "udah nyampe ya."
"kamu kenapa?" tanya uya menempelkan tangannya dijidat cherin. "nggak sakit kan?"
cherin makin salah tingkah dibuatnya. "eh, nggak..." kata cherin terbata-bata. "mm...aku masuk kelas dulu ya, daah..."
karena paniknya cherin tersandung kakinya sendiri, dan terjatuhlah dia di lantai. Cherin mengaduh panjang.
"kamu ceroboh banget ya?" uya berjongkok didepan cherin sambil tangannya menopang dagu. "pantes aja kamu kepleset kulit pisang."
"ah, masak sih?" kata cherin cepat-cepat berdiri menghindari tatapan mata uya yang dia rasa terlalu dekat, cherin sadar wajahnya pasti sudah sangat merah sekarang. "mm...aku masuk kelas dulu ya,dah." cherin masuk kelas dengan gesitnya.
"ah,gila. sejak kapan simon (baca : si monyet) jadi cakep ya?" pikir cherin. "apa aku disantet sama dia? Ah, nggak mungkin, apa untungnya orang kaya kek dia nyantet cewek miskin kek aku. yah,walau aku tau, aku cantik." cherin terus memperdebatkan simon dalam hatinya.
-ketika istirahat tiba, cherin langsung meluncur ke toilet putri. Dia tahu, tempat itu yang tak akan didatangi uya. Kecuali kalau ternyata uya itu cowok jadi-jadian.
Sialnya, cherin salah mencari tempat persembunyian. Memang tak ada uya disini tapi ada segerombolan cewek dari kelasnya yang disinyalir sangat membenci cherin dengan alasan apapun.
"eh, gembel!" bentak lily, si ketua gang. "kenapa tadi pagi kamu bisa berangkat sama uya!?"
belum sempat cherin menjawab, salah satu dayang lily sudah menghujamkan kata-kata pedas. "kamu nyantet uya kan!!"
"dasar gembel rendahan!" sahut dayang yang lain.
Mereka terus menghardik cherin dengan segala kebenciannya. Semua penyiksaan itu diakhiri dengan siraman air. Mereka meninggalkan cherin sendirian di dalam kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Cherin meringkuk dipojokan, air matanya mengalir.
Ketiga orang yang tadik menghardiknya jelas sekali cemburu pada cherin. Mereka tidak suka kalau cherin dekat dengan uya. Alasannya, lily suka uya. Dan cherin telah diacam akan diteror jika ia tak juga menjauhi uya.
Cherin terus berdiam di kamar mandi hingga jam pelajaran berakhir. Tapi tetap saja ia enggan beranjak dari tempatnya. Dia merasa hancur, baru saja dia dekat dengan seseorang, sekarang sudah menderita karenanya. Bukan itu yang ia mau.
Cherin memang tidak mempunyai banyak teman. Itu karena dia tidak ingin dekat dengan siapapun selain sora, teman masa kecilnya yang sekarang tidak diketahui keberadaannya. Dulu mereka tak terpisahkan. Tapi pada suatu hari sora pergi bersama ayahnya. Kejadian itu menjadi luka yang sangat dalam bagi cherin. Sampai saat ini cherin enggan memiliki teman dekat karena takut untuk ditinggalkan lagi. Sakit lagi.
*bersambung*
\('o')/
cerita ini hanya fiktif belaka,dan sengaja dibuat-buat.
maaf jika terdapat banyak kesalahan. Semua murni unsur ketidak sengajaan.
\('¤')/
.
Terimakasih untuk sumber inspirasiku c:
kamsa^^