Rabu, 02 November 2011
sweet lies
El-Nino tetap membawa bencana!
Aan memandang kosong piring yang memang kosong di hadapannya. Perasaannnya sedang kalut. Baru saja dia sukses menipu seluruh keluarganya dan juga Nesa. Dengan segala kemampuan beraktingnya-yang diperoleh secara otodidak-dia berhasil meyakinkan semua orang bahwa dia tidak seperti yang disangkakan orang-orang selama ia menghilang. Sayangnya dia tidak bisa mengelabuhi Juna. Sahabat kecilnya itu terlalu peka akan perubahan sekecil apapun pada diri Aan. Termasuk saat Aan kebelet pipis. Mereka memang tidak terpisahkan sejak kecil. Juna selalu berperan menjadi sesosok kakak yang diidam-idamkan oleh Aan. Di manapun dan kapanpun Juna selalu menjaga Aan layaknya seorang kakak yang selalu menjaga adiknya. Tapi semenjak Aan dan Juna kuliah di tempat yang berbeda mereka jadi jarang bertemu. Dan saat itulah Aan berteman dengan Dino yang telah berhasiln memengaruhinya hingga akhirnya dia terjerumus dalam dunia yang sebenarnya sangat tidak ia inginkan.
Sebuah sentuhan lembut di bahunya mengembalikannya ke dunia nyata. Aan mendapati Gie sedang menatapnya dalam. Ia bisa mengerti arti tatapan itu. Tatapan mata yang dengan jelas memancarkan ribuan pertanyaan yang tak akan pernah selesai diucapkan oleh sang mulut. Aan menghela napas pelan. Dia siap untuk menyusun skenario super dadakan yang akan di lontarkan untuk Gie.
“Aku bisa jamin kalau aku sehat, jauh dari yang namanya drugs.” Ujar Aan datar tapi tajam. Seolah meyakinkan kepada adiknya tercinta bahwa dia adalah seorang kakak yang baik. “Kamu nggak percaya sama aku??” kini ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Aan benar-benar membuat Gie yakin seratus persen bahwa kakaknya bukanlah seorang junkies.
Perlahan Gie mendekatkan tubuhnya pada Aan, dan sebuah pelukan hangat dirasakan oleh Aan, sebuah pelukan yang tulus dan penuh kasih sayang dari adiknya. “Aku percaya kok. Aku percaya Aan!” ucap Gie mantap.
Tubuh Aan bergetar hebat mendengar perkataan Gie. Ia tak sanggup lagi berbohong pada adik manisnya itu. Tapi dia juga tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Rasa bersalah yang terasa begitu menyakitkan, menyiksa jiwa dan raganya.
Pagi ini matahari tersenyum riang, menyinari bumi dan seisinya. Hangat. Sinarnya yang hangat memeluk Aan. Ia sedang berdiri di taman komplek rumahnya. Sendirian. Penuh keraguan.
Dari kejauhan tampak sosok yang sangat dikenal Aan datang menghampirinya. Juga berjalan dengan penuh keraguan. Juna telah berdiri di depan Aan, menyilangkan tangannya di depan dada. Mencoba menghilangkan keraguan di hatinya.
Aan membuang napas panjang diam-diam. Menyiapkan beribua alasan yang mungkin akan membuat Juna percaya pada kebohongannya. Tapi sebelum Aan melancarkan aksinya, Juna sudah buka mulut terlebih dahulu.
“Lo nggak perlu bohongin Gue, An.” Ucap Juna seolah-seolah dia bisa membaca pikiran Aan.
Aan yang merasa telah kalah sebelum bertarung hanya bisa membuang napas denagn berat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tatapan matanya kosong. Sejenak kesunyian begitu terasa mencekam di antara keduanya. Atmosfer yang tadinya hangat oleh sinar matahari pagi, kini berubah menjadi panas karena ketegangan antara keduanya.
“Gue cuma perlu denger pembelaan dari mulut Lo.” Ujar Juna dingin.
Aan masih diam. Ia enggan untuk membuka mulutnya. Ia tahu ia tak punya pembelaan. Karena ia sadar seratus persen bahwa yang dilakukannya adalah salah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar