Rabu, 02 November 2011
you are the one *cp2
isak tangis cherin tak juga terhenti. Rasanya ia ingin menghilang dari dunia. Sekarang kakinya terasa lemas dan kepalanya begitu berat. Baru kali ini kepala yang berisi otak itu terasa menyusahkan untuk cherin.
Ketika rasanya ia sudah tak sadarkan diri, tubuhnya terasa terbang. Ya, begitu setidaknya.
Uya yang menggendong cherin keluar dari kamar mandi. Ia memakaikan jaketnya pada cewek yang tak sadarkan diri itu.
***
sayup-sayup cherin membuka matanya. Kepalanya terasa dihantam meteor, sakit.
Dia melihat sekeliling ruangan. Sempit, sederhana dan apa adanya. Begitu minim, mendekati kata kekurangan. Suasana begitu ia kenal. Ya,rumahnya. Ini rumah cherin. "Tapi, bagaimana bisa?" Pikir cherin. Ia memegang dahinya. "ah, ada kain kompres." kemudia ditengoknya jam di sebelahnya. Jam 9 malam. "oke,bagaimana ini bisa terjadi? Apa tadi aku sedang bermimpi? Mimpi buruk, pasti mimpi buruk." tapi pikiran itu segera tertepis ketika cherin sadar bahwa ia masih mengenakan seragam sekolah, yang terasa dingin karena basah. "oh,sepertinya tadi aku terbang." pikirnya.
Cherin berusaha untuk duduk. Ketika itu juga, baru ia sadari uya ada di depannya. Memasang wajah cemas.
"kamu nggak pa-pa?" tanya uya.
Cherin hanya diam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"sebaiknya kamu ganti baju dulu, itu dingin kan. Setelah itu makan pisang ini." lanjut uya. "aku keluar sebentar cari makan malam, nanti aku kesini lagi."
cherin tak juga melakukan perintah uya. Dia meringkuk diatas kasur sambil memeluk kakinya. Tiba-tiba saja ia teringat akan ibunya.
Cherin dibesarkan oleh ibunya seorang diri dirumah neneknya, karena cherin tidak pernah mengenal sosok ayahnya.
Mereka termasuk keluarga yang berkecukupan sebelum neneknya meninggal. Tapi karena kelakuan ibunya yang boros, setelah neneknya meninggal rumahnya pun dijual. Semua demi memenuhi keinginan ibunya yang begitu banyak. Waktu itu usia cherin 13 tahun, dia masih ingat betul ketika para rentenir menagih uang dengan bringas. Cherin tidak mungkin bisa trauma dengan kejadian itu, karena sekarang ia yang harus menanggung semua hutang ibunya.
Dan kemanakah ibunya sekarang? Tidak tahu. Cherin tak tahu dimana ibunya berada. Tidak pernah tahu.
Cherin kembali menangis setiap ia meratapi nasibnya yang malang itu.
-uya kembali dengan begitu banyak makanan ditangannya. Dia mendapati cherin tidak bergeser sedikit pun dari posisi terakhir yang dilihatnya.
"kamu nggak ganti baju?" tanya uya. "nanti masuk angin." cherin tetap tak berkutik. "apa perlu aku yang gantiin baju kamu." cherin tetap tidak memberikan reaksi. Uya melangkahkan kakinya menuju lemari baju cherin, ia mengambil satu setel piyama milik cherin
"ini, ganti bajumu." kata uya menyodorkan piyama bergambar monyet. "aku mau ke dapur nyiapin makanan, nanti begitu aku kesini kamu udah ganti baju."
selesai bicara, uya langsung melesat ke dapur.
Uya melihat cherin berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Cherin tidak memperdulikan uya yang sibuk menyiapkan makan malam.
Ketika keluar, cherin sudah mengenakan piyama bergambarkan monyet dan pisang.
"kamu ngapain disini?" tanya cherin.
Uya tertegun sesaat, "aku lagi nyiapin makanan." kata uya. "coba lihat ini, sepertinya lezat." uya menunjukkan mangkok yang berisi cream sup rasa pisang dan di tangan kirinya ada piring berisi pisang coklat keju.
"itu bisa dimakan?" tanya cherin polos.
"hahaha!!!" uya tertawa, "ini enak sekali, kamu belum pernah nyoba,ya?"
"kamu alien dari planet monyet ya?" tanya cherin.
"mmm...mungkin begitu." kata uya. "soalnya aku nggak inget dulu pas aku lahir."
"ya jelas kamu nggak inget, kalo inget berarti kamu ajaib."
"hahahaa...kamu tuh emang lucu banget!" ujar uya. "ayo kita makan, aku sudah lapar."
mereka duduk didepan tv.
"nah,kamu mau makan yang mana?" tanya uya.
"mana aja deh."
pelan-pelan suasana hati cherin mulai membaik. Dia juga mulai terbiasa dengan keberadaan uya.
"orangtuamu kemana?" tanya uya ditengah canda tawa mereka.
Cherin terdiam sejenak kemudian mengambil nafas panjang. "aku tidak tahu kemana ibuku dan ayahku." katanya pelan. "bahkan aku tidak tahu siapa ayahku."
"oooh..." bibir uya membulat. "kasihan sekali kamu. Kukira kisah seperti itu hanya ada di sinetron-sinetron saja." ujar uya polos.
Cherin terpaku mendengar kata-kata uya. Dia bingung,kenapa sampai ada orang yang sebegitu mengesalkan.
"kalau seperti yang kulihat di sinetron, berarti orangtuamu masih hidup." ujar uya santai. "ayo kubantu mencari orangtuamu!" seru uya sambil menggenggam tangan cherin. Mata si lelaki monyet tampak bersinar-sinar.
Cherin makin membisu, nafasnya tertahan. Otaknya seperti terbelah-belah. Mendadak ia merasa menjadi orang paling tolol sedunia setelah mengenal empunya orang tolol yaitu uya.
"kenapa diam?" tanya uya memecah keheningan.
"kamu benar-benar makhluk tuhan yang paling ajaib?" ujar cherin. "apa sebenarnya isi otakmu yang sepertinya sangat langka itu?"
"maksudnya apa?" uya mengerutkan keningnya.
"lupakan saja." sahut cherin. "lebih baik kamu pulang sekarang. Ini sudah malam."
"hmm..." uya tampak menimbang-nimbang sesuatu. Matanya berputar-putar, seperti mencari sesuatu disetiap sudut matanya. "kamu berani sendiri kan?"
"iya dong, aku udah biasa sendiri kok." ujar cherin.
"oke." kata uya sambil berdiri. "aku pergi." uya mengusap-usap rambut cherin. Kemudian dia meninggalkan cherin.
***
Keesokan harinya cherin terlihat lebih baik dari sebelumnya. Seulas senyum kini menghiasi wajahnya. Cherin memagut dirinya di depan cermin, dia sudah berseragam rapih.
"semangat!" katanya di depan cermin. "hari ini harus semangat!"
tanpa cherin sadari, dari pintu dapur uya memandanginya. Cowok berambut pirang agak gondrong itu memiringkan kepalanya dan bergumam, "cantik juga."
cherin yang terkejut mendengar suara samar-samar itu. Dia mengamati cermin di depannya dengan seksama. "kamu cermin ajaib ya?" katanya pelan. "haloo...siapa di sana?" cherin mengetuk cermin di hadapannya.
"uya." celetuk uya dari ambang pintu dapur.
Sontak cherin mundur beberapa langkah. "ka...kamu...siluman." katanya tergagap-gagap. Wajahnya menampakkan beribu rasa bingung dan cemas. Dia jatuh terduduk dan memegangi kepalanya, mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata rapi. Melihat itu, uya tertawa terbahak-bahak sampai jungkir balik di lantai. Cherin memalingkan wajahnya menuju arah suara. Dia terdiam. Terpana. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tawa uya makin meledak saat mendapati cherin dengan mulut menganga lebar. Kini mata si monyet itu meneteskan air mata kebahagiaan karena tertawa terbahak-bahak.
"kamu ngapain di sini!" bentak cheri sesaat setelah sadar dari keterpanaannya.
Dia berdiri merapikan rambut dan pakaiannya yang semrawut.
"kok kamu bisa di sini?" ulang cherin. Kali ini dengan nada yang lebih rendah.
Uya berusaha mengatur nafasnya. Dia tahu cherin akan marah kalau dia tidak segera menanggapinya. Sepertinya uya sudah mulai memahami cewek yang sekarang sedang manyun di depannya.
"tadi," kata uya. "aku kesini lewat situ." dia menunjuk ke arah kamar mandi. Cherin mengerutkan keningnya. "di kamar mandimu ada pintu baru."
cherin yang terkejut hebat dengan sisa tenaganya yang masih tersadar melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Sesampainya disana, ia mendapati kamar mandinya memiliki pintu baru di bagian belakangnya.
Ketika pintu itu dibuka maka yang terlihat dibaliknya adalah sebuah kamar yang sangat megah dan rapi. Ia sangat tidak percaya dengan penglihatannya.
Di belakangnya uya tersenyum semanis mungkin, merasa dirinya seperti seorang pemenang. "itu kamarku."
JGLAARR
seperti tersambar petir. Cherin membeku ditempat.
To be continued...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar